AGAMA BUDHA
AGAMA
BUDHA
A.
Latar Belakang Sejarah dan Pembawa Agama Budha
Pemeluk
ajaran agama Budha banyak yang mendapat
gelar kehormatan, salah satu orang yang dapat pencerahan dan gelar tersebut
adalah Siddharta Gautama, Budhha yang ke-28 sekaligus sebagai pendiri agama
Budha. Secara etimologi, Budha berasal dari
kata “Budh” yang artinya bangunan atau bangkit, dapat berarti juga pergi
dari kalangan orang bawah atau awam. Kata kerja “Bujjhati” berarti bangun,
mendapat pencerahan, mengenal atau mengerti. Budha mengandung banyak
pengertian, diantaranya adalah orang yang telah menerima kebijaksanaan
sempurna, orang yang tersadar secara spiritual, orang yang bersedia menyadarkan
orang lain, dan bersih dari kotoran batin berupa dosa , serakah dan kegelapan.
Demikian, Budha adalah orang yang telah mencapai penerangan sempurna, tujuan
lain dari agama Budha dari sekte atau aliran apapun itu ialah untuk mencapai
penerangan yang sempurna dan menjadi Budha. Ajaran yang disampaikan oleh
Sidharta Gautama tidak dipandang sebagai filsafat saja karena pengertian ini
menunjuk pada semua fenomena yang ada di alam ini dan mencangkup juga istilah
dharma yang menjadi inti ajaran Gautama.
B.
Kitab dan Naskah Suci Agama Budha
Dalam
kitab suci agama Budha dijelaskan bahwa Siddhartha Gautama merupakan pelopor
penyebaran agama ini, merupakan manusia biasa yang mendapat pencerahan sehingga
ia menjadi manusia suci, perkataan-perkataan yang keluar darinya dikumpulkan
dan dijadikan kitab suci yang menjadi pedoman agama Budha, pembentukan kitab
suci berjalan cukup panjang. Kemudian kitab suci dikelompokan menjadi tiga dan
dikenal sebagai “Tripitaka”, berikut penjelasan singkatnya :
1.
Sutra Pitaka
Sutra dalam bahasa Sangsekerta atau
Sutta (Pali) memiliki arti benang. Kitabnya disebut Sutra Pitaka karena
memiliki karakter seperti benang. Kitab ini berisi ajaran dharma (Pali:dhamma)
yaitu ajaran yang disampaikan oleh sang Budha kepada murid-muridnya dan juga
memuat ajaran tentang cara hidup yang berguna bagi para “biksu” dan pengikut
yang lain. Kitab Sutra Pitaka juga memuat ucapan para Tera Bhikku dan Bhikkuni,
dan menjelaskan juga tentang sang Budha yang menyembuhkan penyakit yang
terdapat dalam diri manusia.
2.
Vinaya Pitaka
Kitab
ini berisi peraturan untuk mengatur tata tertib sangha atau jemaat, kehidupan
para biksu atau rahib dan yang lainnya, juga berisi peraturan bagi para Bikhuku
dan Bikkuni. Kitab ini terdiri dari tiga bagian yaitu Sutra Vibanga, Khandaka,
dan Parivawa. Berikut rangkumannya :
a.
Sutra
Vibanga yang berisi peraturan bagi para Bikkhu dan Bikhunni, dan termaktub 227
peraturan yang mencangkup 8 pelanggaran yang menyebabkan seorang Bikhu
dikeluarkan dari Sangha dan tidak dapat menjadi bikhu lagi seumur hidupnya.
b.
Khandaka,
terbagi dua yaitu : Mahavagga yang berisi peraturan tentang upacara penahbisan
bhikku, didalamnya diatur tentang upacara Uposatha pada bulan purnama dan bulan
baru, dan Cullavaga berisi peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran,
tata cara penerimaan kembali seorang bikhu dan lain sebagainya.
c.
Parivara,
kitab ini memuat tentang pengelompokan peraturan Vinaya yang disusun dalam
bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan pengujian.
3.
Abbidharma Pitaka
Kitab ini berisi uraian filsafat
dari sang Budhha yang disusun secara analitis yang membahas metafisika, sastra,
definisi kata-kata Budha Dharma, dan penjelasan lain mengenai filsafat dengan
sistematis. Dengan kata lain kitab ini berisi ajaran yang lebih mendalam
mengenai hakikat dan tujuan hidup manusia, ilmu pengetahuan dan lain
sebagainya. Kitab ini menggunakan bahasa yang lebih teknis dan analitis
sehingga sulit dipahami oleh masyarakat umum.
Selain ketiga pengelompokan ini,
kitab agama Budha juga dibagi menjadi dua bagian yaitu Sutra dan Sastra. Kitab
Sutra adalah kitab yang dianggap berisi ucapan Budha meskipun telah ditulis
jauh sebelum meninggal dunia, sementara itu kitab Sastra merupakan uraian yang
ditulis oleh para tokoh ternama.
C.
Sistem Kepercayaan Agama Budha
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya bahwa agama Budha bersumber pada kitab Tripitaka
yang berupa kumpulan khotbah, keterangan yang pernah di lakukan oleh sang
Budha. Dengan berdasar pada kitab ini, ajaran pokok ini terdiri dari tiga
kerangka dasar yang terdiri atas filsafat, moral, dan upacara keagamaan yang
membedakan Budha dengan agama lainnya. Ada enam ajaran pokok yaitu berikut
rangkumannya :
1.
Triratna
Bermakan tiga
permata merupakan buah pengakuan dari setiap penganut agama Budha, seperti
halnya credo agama kristen atau islam,
pengakuan ini berbunyi :
-Buddham
saranam gacchami (saya berlindung di dalam Budha)
-Dhamman
saranam gacchami (saya berlindung didalam dhamma)
-Sangham
saranam dacchami (saya berlindung didalam sangha)
2.
Cattari Arya Saccani (empat kebenaran mulia)
Empat kebenaran mulia merupakan
kebenaran yang absolut dan mutlak yang berlaku bagi siapapun tanpa membedakan
suku ataupun agama. Ajaran ini dipelopori oleh sang Budha dalam khotbahnya di
taman rusa Istapana atau Dhamma Cakkappavattana Sutta (khutbah pemutaran roda
dhamma)
3.
Tilakkhana (tiga corak umum)
Merupakan
bagian penting dalam agama Budha karena dalam fenomena yang terbentuk karena
ada disetiap sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur yang ada di alam semesta ini. Ketiga corak ini
merupakan salah satu bentuk dari hukum kebenaran mutlak sehingga sifatnya
universal, adapun tiga corak itu adalah :
a.
Sabbe
Sankhara Anicca
Anicca berarti
“tidak kekal” yaitu ketidakekalan dialam semesta ini merupakan sebuah
keniscayaan dan fakta yang tak terhindarkan.
b.
Sabbe
Sankhara Dukkha
Dukkha
merupakan suatu yang tidak memuaskan dan dapat menimbulkan beban berat atau
penderitaan kepada manusia. Tidak seperti Annica, keberadaan Dukkha lebih sulit
diterima, sebab sulit bagi manusia untuk memahami secara objektf bahwa segala
sesuatu di dunia ini dapat menimbulkan penderitaan serta ketidakpuasan.
c.
Sabbe
Dhamma Anatta
Kata anata
berasal dari bahasa Pali, sementara itu dalam bahasa sansekerta berarti anatman
yang memiliki arti “bukan diri sejati” atau “tiada inti diri”. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa segala sesuatu yang berunsur dan terbentuk dari perpaduan
unsur atau sesuatu yang tidak berkondisi bukanlah diri yang sejati.
4.
Hukum Karma dan Tumibal Lahir
Kata
karma berasal dari bahasa sansekerta
atau kamma bahasa Pali, yang artinya perbuatan, unsur penting dalam
agama Budha ini memuat makna bahwa perbuatan dapat membuahkan hasil yaitu
perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan dan sebaliknya. Jadi, perbuatan
yang dilakukan atau disertai kehendak dikategorikan sebagai karma.
5.
Patticasamuppada
Patticasamuppada
berasal dari kata pattica yang artinya “disyaratkan”, dan samupada yang artinya
“ muncul bersamaan”, jadi Patticasamuppada diartikan sebagai kemunculan bersama
karena syarat berantai, atau sebab akibat yang saling berhubungan. Pokok sebab
akibat yang saling bergantungan , menurut hukum ini dua kejadian tidak dapat dipisah karena
keduanya merupakan mata rantai yang saling berhubungan dan tidak mengenal
batas.
6. Nibbana
Nibbana diartikan sebagai padamnya keserakahan,
kebencian dan kebodohan, dengan demikian dipahami bahwa Nibbana adalah padamnya
keinginan, ikatan-ikatan, nafsu dan kekotoran batin. Untuk mencapai Nibbana
ini, manusiaharus mengusahakan sendiri untuk menenangkan batinnya.
D.
Aliran-aliran Agama Budha
Setelah
sang Budha “Parinibbana” meninggal dunia, di India muncul banyak sekte baru
yang berbeda, semuanya mengaku mewakili ajaran sang Budha, munculnya banyak
aliran ini dikarenakan adanya perbedaan penafsiran yang telah disampaikan sang
Budha, berjalannya waktu, aliran tersebut hilang dan hanya menjadi dua aliran
utama yaitu, Theravada dan Mahayana, berikut penjelasannya :
1.
Theravada
Dalam bahasa Pali, Theravada
memiliki makna “ajaran sesepuh”, atau “pengajaran dahulu”, Theravaa adalah
ajaran agama Budha yang tertua dan bertahan hingga kini. Ajarannya sangat
konservatif. Seluruh naskah aliran ini menggunakan bahasa Pali, bahasa yang
digunakan di India (khususnya bagian Utara). Aliran Theravada menjadi
kepercayaan dibeberapa daerah, saat ini aliran Theravada dianut sebagian orang
diseluruh dunia, dan perkiraan akan terus bertambah.
2.
Mahayana
Mahayana
berasal dari bahasa Sangsekerta yang artinya “kendaraan besar”, aliran ini
lahir di India pada abad ke-1 atau abad ke-1 SM, menurut para ahli sejarawan,
aliran Mahayana menjadi gerakan utama dalam agama Buddha pada abad ke-5.
Naskah-naskah Mahayana pada saat itu muncul di prasasti . ketika Mahayana masih
berada di India sebelum abad ke-11, Sutra-sutra Mahayana masih dalam proses
perbaikan, maka banyak banyak sutra-sutra yang mungkin muncul. Aliran ini
menyebar ke seluruh Asia Timur dan banyak dianut oleh beberapa negara termasuk
Budha Tibet (etnis Humalaya yang diakibatkan invansi bangsa Tiongkok ke Tibet).
Perbedaan aliran Mahayana dengan Theravada adalah bahwa setiap Indiviu memiliki
potensi Budha dalam dirinya sendiri, lain halnya dengan Theravada yang percaya
bahwa potensi dapat terealisasikan melalui usaha individu itu sendiri. Selain
itu aliran ini percaya bahwa mereka dapat mencari keselamatan melalui campur
tangan oranglain yang disebut Bhoddisatta. Menurut mereka Bodhisatta merupakan
Budha dimasa depan yang mempunyai belas kasih terhadap manusia . aliran
Mahayana daan Theravada yang memiliki perbedaan, secara doktrin tidak ada
perbedaan pendapat tentang Dhamma yang ada di kitab Tripitaka.
Referensi
Ali Imron, Muhamad, 2015. Sejarah terlengkap Agama-agama Dunia. Yogyakarta
: IRCiSoD.
Comments
Post a Comment