AGAMA HINDU

 

AGAMA HINDU

A.    Latar Belakang Sejarah dan Pembawa Agama Hindu ( Rsi, Sapta Rsi)

Dalam perkembangan sejarah agama Hindu dimulai dari zaman perkembangan kebudayaan–kebudayaan di Mesopotamia dan Mesir. Diperkirakan tahun 3000 dan 2000 SM sudah ada bangsa yang penduduknya menyerupai bangsa Sumeria di daerah sungai Eufrat dan Tigris, penduduk india zaman ini disebut dengan bangsa Dravida. Selanjutnya antara tahun 2000-1000SM dari sebelah utara India, masuklah kaum Arya yang memisahkan diri dari bangsanya di Iran, masuk ke India melalui pegunungan Hindu Kush. Sebelum mengenal sistem kepercayaan yang terorganisir, bangsa Arya melakukan pemujaan yang ditunjukan pada fenomena alam seperti gunung, laut dan lainnya. Setelah bangsa Arya melakukan menempati sungai Idrus, maka mereka bercampur dengan bangsa Dravida, awalnya semua menganggap bahwa budaya India adalah kebudayaan yang dibawa oleh bangsa Arya, namun setelah dilakukan penggalian bekas runtuhan pada peradaban Mohenjodaro dan Harappa diketahui bahwa bangsa Arya lebih rendah dari bangsa Dravida, jadi jelas bahwa bangsa India tumbuh dari dua bangsa yang berlainan yang kemudian menjadi satu kesatuan.

 

B.     Kitab dan Naskah Suci Agama Hindu

Ajaran agama Hindu bersumber dari kitab atau naskah suci yang disusun dalam masa yang sangat panjang dan dalam kitab suci ini termuat nilai-nilai agama Hindu beserta tuntunan untuk menjalani hidup di jalan dharma, salah satu sastra suci itu adalah Weda (yang paling tua dan lengkap, diikuti Upanishad (susastra dasar yang yang penting untuk mempelajari filsafat Hindu), dan sastra lain seperti Tantra, Agama dan Purana, serta ithasa (epos) yaitu Ramayana dan Mahabharata. Weda adalah kebenaran abadi yang diwahyukan kepada Resi ketika mendengar wahyu pada saat melakukan meditasi, artinya Weda bukan hasil dari pemikiran manusia melainkan sesuatu yang disadari oleh para Resi Weda yang merasakan kekuatan yang dianggap berasal dari Tuhan, maka sumber ajaran agama Hindu adalah Weda, kitab suci Weda disebut juga dengan “Sruti”. Para maha Resi yang mendapatkan wahyu sangat banyak, namun hanya tujuh yang terkenal dan disebut “Saptaresi” diantaranya adalah :

1.      Resi Gritsamada

2.      Resi Wasista

3.      Resi Atri

4.      Resi Wiswamitra

5.      Resi Wamadewa

6.      Resi Bharadwaja dan

7.      Resi Kanwa

Bahasa yang digunakan dalam kitab Weda adalah Sangsekerta, sebelum sangsekerta populer, bahasa yang digunakan adalah  Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Resi Manu membagi Weda menjadi 2 jenis yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Sruti dan Smerti merupakan dasar ajaran agama Hindu yang tidak boleh dibantah dan harus dipegang teguh. Berikut adalah ulasan singkatnya :

1.      Sruti

Penganut agama Hindu mempercayai Sruti merupakan kitab yang diturunkan langsung oleh Tuhan kepada para Resi, dengan kata lain Sruti adalah Weda yang original. Menurut sifatnya weda Sruti dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

a.       Bagian Mantra adalah wahyu yang dimunculkan berdasarkan kesadaran para guru, Weda Sruti disebut catur weda atau catur weda samhita, keempat kitab suci weda samhita adalah :

1.      Rig Weda atau Rg Weda Samhita

2.      Sama Weda Samhita

3.      Yajur Weda Samhita

4.      Atharwa Weda Samhita  

b.      Bagian Brahmana, kitab Brahmana disusun oleh pendeta Brahmana sekitar abad ke-8 SM, disusun dalam bentuk prosa yang ditulis oleh bangsa Arya, dengan kata lain kitab ini bukan ditunjukan untuk Dewa melainkan berisi tentang keterangan dari para Brahmana tentang korban dan sesaji.  

c.       Bagian Upanisad/Aranyaka, kitab ini memuat ajaran filsafat, meditasi serta ketuhanan, Upanisad disusun dengan waktu yang lama dan yang tertua adalah Brharadaranyaka Upanisah dan Chandogya Upanisad, diperkirakan disusun pada abad ke-8 SM. Sementara itu, kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana, berisi tentang renungan dan masalah korban, Aranyaka terdiri dari interpretasi mistik dari mantra dan upacara.

2.      Smerti

Smerti merupakan kitab yang disusun kembali berdasarkan ingatan. “smerti” artinya “yang diingat” atau “kenangan”. Kitab ini dianggap buatan manusia bukan dari Tuhan, Smerti ditulis untuk menjelaskan Weda agar dapat dimengerti oleh manusia. Smerti dikelompokan menjadi dua yaitu :

a.       Kelompok Wedangga, disebut juga Sadangga, terdiri dari enam bidang Weda yaitu, siksa(ponetika), Wyakarana (tata bahasa), Chanda (lagu), Nirukta (memuat berbagai penafsiran autentik weda), Jyotisa (astronomi), dan kalpa.

b.      Kelompok Upaweda, sama pentingnya seperti Wedanga, kelompok Upaweda terdiri dari 5 jenis yaitu, Itihasa, Purana, Arthasastra, Ayur Weda, Gandharwaweda.

 

C.    Ajaran-ajaran Pokok Agama Hindu (Tattwa, Susila dan Upacara)

Weda merupakan kitab suci yang menjadi pedoman bagi umat Hindu, melalui kitab suci ini umat diajarkan tentang etika dan tata cara hidup sebagai makhluk sosial. Ada yang menyatakan bahwa agama Hindu merupakan agama politeisme sebab menyembah banyak dewa namun tidak semua itu benar, sebab menurut umat Hindu, dewa bukanklah Tuhan tersendiri, dalam salah satu ajaran filsafat Hindu yaitu Adwaita Wedatana menjelaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala sumber(Brahman) yaitu yang memanifestasikan diri-Nya ke dalam berbagai bentukan. Ajaran Hindu dibangun oleh kerangka dasarnya yaitu Tattwa, susila dan acara agama, ketiganya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, berikut adalah uraian singkatnya :

1.      Tattwa (Filsafat)

Tatwa merupakan kata yang berasal dari kata awalan “Tat” yang berarti “itu” dan “twa” yang artinya “itu”. Kata Tattwa bisa diartikan “ke-itu-an”, sementara arti yang lebih mendalam adalah “ kebenaranlah itu”. Di dalam terminologi Hindu kata Tattwa mendefinisikan sebagai dasar agama Hindu dan tidak terlalu mendefinisikan ke filsafat. Tattwa mengandung lima hal yang biasa disebut dengan Panca Sradha. Keimanan terhadap Tuhan merupakan dasar beragama umat Hindu , adapun pokok-pokok itu dibagi menjadi lima yaitu Panca Srada yang terdiri dari Widhi Tattwa(percaya adanya Tuhan), Atma Tattwa (percaya adanya jiwa), Karmaphala Tattwa (percaya kepada hukum sebab akibat), Purnabhawa tattwa (percaya kepada adanya penitisan)  dan Moksa Tattwa (percaya adanya kelepasan/merdeka).

2.      Susila (Etika)

Susila berasal dari kata “su” yang artinya baik dan sila berarti “dasar/perilaku/tindakan”, Susila adalah tingkah laku manusia yang baik yang memancar sebagai pencerminan dirinya terhadap hubungan dan lingkungan disekitarnya, susila juga bisa diartikan dengan etika. Dalam agama Hindu, Susila merupakan aspek penting dalam berkehidupan bermasyarakat, kualitas seseorang ditentukan oleh etikanya, penerapan dalam agama Hindu mengenai Susila adalah :

a.       Tri Kaya Parisuda : adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan ajaran Hindu dan menjadi pedoman.

b.      Panca Yama dan Niyama Brata : adalah lima kebaikan yang harus dilaksanakan dan lima keburukan yang seharusnya dihindari.

c.       Tri Mala : tiga sifat buruk yang dapat meracuni manusia

d.      Sad Ripu : adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yang mengakibatkan tidak stabilnya emosi.

e.       Catur Asrama : empat tingkat kehidupan manusia yang disesuaikan dengan kehidupannya juga mempengaruhi prioritas menunaikan dharmanya.

f.       Catur Purusa Artha : empat dasar pilihan hidup manusia

g.      Catur Warna : merupakan empat pilihan hidup atau pembagian berdasarkan bakat yang dimiliki dan juga keterampilan yang dimiliki seseorang.

h.      Catur Guru : adalah empat kepribadian yang harus dihormati oleh penganut Hindu.

3.      Upacara (Yadnya)

Yadnya merupakan salah satu perbuatan suci yang dilakukan dengan ikhlas yang merupakan dorongan dari jiwa untuk berbuat baik berdasarkan dharma. Yadnya juga diartikan sebagai “memuja, menghormati, mengabdi, berkorban dan berbuat baik dan penyerahan dengan ikhlas”. Yadnya dikategorikan dalam beberapa bagian, berikut adalah rangkumannya :

a.       Menurut tingkat pelaksanaan Yadnya

b.      Menurut jenisnya (Panca Yadnya)

c.       Menurut Waktu Pelaksanaannya

d.      Menurut Cara Menjalankannya (Panca Marga Yadnya)

 

 

 

 

D.    Sekte-Sekte Agama Hindu

Ada beberapa sekte utama dalam Hindu, Sekte-sekte ini memiliki khas tersendiri dalam menanggapi beberapa ajaran agama yang dipandang lebih penting dari ajaran pokoknya. Berikut merupakan rangkuman singkatnya :

1.      Sekte Bhakti

Sekte Bhakti digolongkan menjadi dua macam yaitu bhakti yang kurang sempurna yaitu jika mmotivasinya hanya tentang diniawi, yang ke dua yaitu bhakti yang sempurna merupakan bhakti yang yang dilakukan semata-mata untuk mengekatkan diri kepada Dewa. Wujud bhakti memiliki jenjang sebagai berikut :

a.       Menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan, baik yang nyata dan Gaib

b.      Memuja, adalah wujud bhakti berupa lantunan pujian untuk Tuhan

c.       Berdoa sebagai wujud bhakti yang dilakukan untuk permohonan terhadap Tuhan.

Dalam kitab Bhagavadgita banyak menyinggung sekte Bhakti dan penekanan ajaran amal perbuatan disebut “karmayoga” yang berakhir pada bhakti “Krisna”. Ajaran terpenting dari Bhakti adalah tentang keselamatan, dan terdapat dua bhakti yang terpenting yaitu Khrisna bhakti dan Rama bhakti.

2.      Sekte Wisnu

Sekte Wisnu lebih menekankan pemujaan terhadap dewa Wisnu, istrinya dan avatarnya. Sekte Wisnu dibedakan menjadi empat Sampradaya pokok atau sekte, yaitu Sri Sampradaya, Panchararta, Waikhanas, dan Karmahina. Penganut sekte ini lebih mengagungkan dewa Wisnu karena merasa diberi jaminan kedamaian hidup bagi penganutnya, dengan sikap penyerahan diri dari –penganutnya ini akan membawa mereka pada Nirwana. Dalam kitab sucinya yaitu kitab Purana, dewa Wisnu dilukiskan dengan baik dalam menolong manusia dari masalah dan kehancuran, upayanya dewa Wisnu menjelma menjadi makhluk ajaib dalam sepuluh rupa (melakukan avatara). Semua avatara Wisnu merupakan sebuah penggambaran simbolis yang mencerminkan kepercayaan Wisnuisme terhadap “juru selamat” dalam dunia manusia.

3.      Sekte Siwa

Dewa Siwa dalam agama Hindu digambarkan dengan tangan empat ketika sedang menjadi Siwa Mahadewa (Maheswara) pada saat itu tidak ada yang dapat mengalahkannya sekalipun itu dewa lainnya, saat berubah menjadi Mahaguru maka Siwa akan berubah menjadi orangtua berjenggot dan membimbing manusia kearah yang lebih baik, namun pada saat dirinya dilukiskan sebagai raksasa yang buas dan merusak maka itu sebagai pertanda amarahnya. Penganut sekte ini menganggap dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, adapun bentuk pemujaan yang dilakukan para pendeta untuk dewa Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut “Catur Dasa Siwa” yaitu empat belas wujud dewa Siwa, mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh keTuhanan yang kuat dan mendapat kebahagiaan.

4.      Sekte Brahma

Sekte ini melakukan pemujaan terhadap dewa Brahma yang diyakini menciptakan alam semesta menurut ajaran Trimurti dengan kitabnya yaitu “Brahmana(800SM)” isinya menjelaskan tentang sesaji dan melakukan pengorbanan-pengorbanan yang didasarkan perintah dari pendeta, intinya sekte ini lahir untuk mempertahankan kedudukan mereka, oleh karena itu umat Hindu harus tunduk dan patuh terhadap dewa yang tinggal di kahyangan dan para pendeta  atau Brahmana. Kasta tertinggi merupakan kaum Brahmana yang memiliki hak istimewa terhadap masyarakat dan upacara-upacara keagamaan sehingga dianggap mempengaruhi Dewa untuk turun ke bumi untuk memenuhi permintaan kaumnya.

5.      Sekte Sakti

Sekte sakti bisa dikategorikan juga dari sekte Siwa, namun yang dipuja bukan lagi Siwa melainkan kesaktiannya dalam bentuk Darga. Sakti merupakan kekuatan yang aktif dan menyebabkan dewa Siwa dapat menciptakan, tanpa sakti, Siwa tidak bisa berbuat apa-apa karena Siwa merupakan prinsip pasif. Karena hal ini Sakti lebih penting dari Siwa, semua terjadi karena persatuan antara prinsif aktif dan prinsif pasif yaitu dewa Siwa dengan Saktinya dan itulah Durga. Sekte ini berkaitan dengan seksual karena persatuan Siwa dan sakti adalah persatuan antara laki-laki dan perempuan, menurut sekte ini segala sesuatu dapat tercipta melalui persatuan tersebiut dan hal ini merupakan hal yang baik dan tidak ada yang tidak baik, jika ada yang beranggapan bahwa hal ini baik dan ada yang tidak baik itu merupakan kekeliruan karena anggapan ini hanya didasarkan pada kesadaran manusia itu sendiri. Manusia harus segera menyadari kebenaran bahwa segala sesuatu adalah perwujudan Skti dan Siwa dan semua itu baik.

6.      Sekte Tantra

Sekte Tantra merupakan perpaduan sinkretistik dari berbagai kepercayaan, termasuk yang primitif di India, ajarannya didasarka pada kitab Tantra, aliran ini lebih mementingkan mantra-mantra rahasia yang membebaskan ruang hawa nafsu. Untuk membebaskan manusia dari hawa nafsunya, ada lima cara yang ditempuh oleh penganut sekte Tantra, diantaranya Matsya yaitu makan ikan sebanyak-banyaknya, “mada” meminum tuak sebanyak-banyaknya, “ mansa” yaitu makan daging sebanyak-banyaknya, “mudra” yaitu makan nasi sebanyak-banyaknya, “mauetuha” yaitu melakukan nafsu birahi terhadap wanita sebanyak-banyaknya. Dengan manusia tidak terperdaya dengan nafsunya, manusia bisa melepaskan diri dari Samsara, adapula ajaran dari Tatrayana yang diberikan dalam bentuk percakapan antara Siwa dan Durga yaitu istrinya Siwa.

 

 

Referensi

Ali Imron, Muhamad, 2015. Sejarah terlengkap Agama-agama Dunia. Yogyakarta : IRCiSoD.

Comments

Popular posts from this blog

AGAMA BUDHA