AGAMA JAIN (JAINISME)

 

AGAMA JAIN (JAINISME)

A.    Sejarah Lahirnya Agama Jain

Jainisme muncul sebagai reaksi atas ketidaksetujuan terhadap ajaran-ajaran agama Hindu. mucul pada zaman wiracarita, pada masa akhir Brahmana, yaitu ketika ada perdebatan antara aliran teistis dan non teistis. Agama ini muncul karena dua alasan, pertama, pada saat manusia tidak mengakui adanya otoritas sakral yang dinyatakan dalam kitab Weda. Kedua, karena pada waktu itu banyak masyarakat menolak ortodoksi Hindu tentang pengelompokan masyarakat yang berdasarkan pada kasta. Penolakan ini menyebabkan pemberontakan, dan ini dipimpin oleh Mahavira dan lahirlah sebuah kepercayaan baru yang berkembang menjadi agama Jain. Ajaran agama ini sebenarnya telah ada sebelum kelahiran Mahavira, agama ini mwengakui ada 24 thirtangkara atau jiwa sempurna yang semuanya dipercayai telah menyebarkan ajaran agama jain keseluruh dunia. Pendiri agama Jain sebenarnya adalah Rsbha, ia adalah orang yang memperkenalkan Jainisme , nama Rsbha dapat dijumpai di kitab Weda dan Purana, meskipun tidak banyak.

B.     Kitab Suci Agama Jain

Kitab suci agama Jain adalah Siddanta yang bermakna “perintah, ajaran, atau bimbingan. Kitab ini bersumber dari pidato-pidato yang pernah diajarkan oleh Mahavira. Awalnya, sumber kitab suci ini hanya diturunkan dari generasi ke generasi, karena takut hilang dan tercampur dengan agama lain, pustaka ini dikumpulkan pada abad ke-4 SM, sempat berselisih, akhirnya pengumpulan ajaran tertunda hingga 57M, setelah proses yang panjang akhirnya kitab berhasil dibukukan. Kitab suci pertama ditulis dalam bahasa Ardaha Majdi yang kemudian ditulis dengan bahasa sansekertapada abad-abad masehi. Menurut penganut Jainisme, konon yang orisinal pada aman thirtankara, yang pertama terdiri dari 2 buku suci, yaitu 14 purwa dan 11 Angga, tetapi ke-14 purwa ini diperdebatkan antara sekte Digambara dan Svetambara, terutama hanya diberlakukan oleh sthulabada. Kemudian yang ke -11 angga terdiri dari 45 teks dan masih ada pula 12 upanga, 10 paina, 6 chhedasutra, nandi dan anoyogdavara dan 4 mulasutra. Adapula permata Yakut, terkadang disebut juga ratna jiwa.

C.    Sistem Kepercayaan Dalam Agama Jain

Agama Jain memiliki pandangan sendiri terkait masalah ketuhanan, karma ataupun tentang kehidupan setelah mati. Berikut rangkumannya :

1.      Konsep Ketuhanan

Agama Jain menolak adanya Tuhan sebagai penguasa di Dunia, sebenarnya agama Jain tidak menafikan adanya Tuhan, mereka mengetahui keberadaan zat yang disebut maha kuat, namun menurut mereka “maha kuat” itu termasuk juga manusia. Kehadiran Tuhan dalam Jainisme tidak begitu diperlukan karena manusia mampu mencapai kelepasan melalui kekuatannya sendiri tanpa harus bergantung terhadap kekuatan lain diluar dirinya, selain itu, keberadaan Tuhan seolah dianggap sebagai sesuatu yang dijelaskan berdasar prinsip-prinsip irasional.

2.      Konsep tentang Alam

Agama Jain membagi alam semesta menjadi dua yaitu zat yang hidup (jiva) dan zat yang tidak hidup (ajiva). Menurut pemahaman agama ini, substansi dari jiva dan ajiva adalah kekal dan tidak diciptakan, tidak berawal dan berakhir.  Selain itu agama Jain meyakini bahwa alam ini abadi.

3.      Konsep tentang Karma

Dalam keyakinan Jainisme, karma adalah bahan yang menghasilkan kondisi tertentu, konsep karma agama Jain berpangkal pada prinsip dualisme yaitu jiwa dan dan benda, karena itulah agama ini meyakini bahwa tubuh manusia memenjarakan jiwanya. Meskipun begitu, karma bisa dibersihkan dengan cara melakukan nirjana, jika proses ini berjalan tanpa rintangan maka akhirnya semua karma dapat tercabut dari jiwa. Ada dua metode untuk melakukan nirjana, yaitu metode pasif dengan membiarkan karma masa lalu mematangkannya. Maka dari itu agama in i harus belajar keseimbangan batin dalam semua keadaan. Kedua adalah metode aktif, yaitu berlatih pertapaan eksternal dan internal (penetensi atau tapas) sehingga dapat mempercepat proses pematangan dan mengurangi efek yang dihasilkan.

4.      Konsep tentang pencerahan

Ketika seseorang berhasil mencapai kesempurnaan dan pencerahan maka ia telah mencapai puncak kesalihan, saat seorang telah berhasil mencapai kesempurnaan seperti yang telah diajarkan thirtangkara maka ia bisa menikmati empat macam atribut yaitu persepsi yang tidak terbatas, pengetahuan yang tidak terbatas, kekuatan yang tidak terbatas, dan kebahagiaan yang tidak terbatas. Kesempurnaan jiwa i i bisa dinikmati pada saat masih didunia ataupun setelah mati.

5.      Konsep tentang epistemologi

Agama Jain menolak dengan tegas pandangan Carvaka, yang mengatakan bahwa persepsi hanyalah satu-satunya sumber valid munculnya pengetahuan. Dalam agama Jain, pengetahuan diklasifikasikan menjadi pengetahuan langsung dan pengetahuan antara. Pengetahuan langsung dibagi lagi menjadi avadhi, manahparyaya, dan kepala yaitu pengetahuan antara menjadi mati dan sruta. . selain itu agama Jain membagi pengetahuan menjadi dua jenis yaitu pengetahuan tentang benda apa adanya, dan pengetahuan tentang benda yang berhubungan dengan lainnya.

6.      Konsep tentang pluralisme roh

Dalam agama Jain, terdapat roh sebanyak tubuh hidup yang ada, baik itu roh binatang, tumbuhan, atau debu, dan semua roh ini memiliki kesadaran yang tidak terbatasnamun terbelenggu dalam pengetahuan yang terbatas dan tenaga yang terbatas. Setiap roh dihalangi oleh karma, karma dapat menyebabkan belenggu roh, karena itu karma harus disingkirkan. Cara untuk menyingkirkan belenggu ini adalah dengan memiliki keyakinan yang sempurna terhadap ajaran guru-guru Jaina, pengetahuan yang benar dalam ajaran ini dan perilku yang benar *(tiga ratna jiwa)

7.      Konsep tentang metafisika

Dalam metafisika, agama Jain menganut doktrin pluralistik realitas. Jainisme memandang material dan spirit sebagai realitas yang independen dan terpisah. Menurut agama Jain, sebuah benda mempunyai karakteristik dan tidak terhingga, setiap objek mempunyai karakter positif dan negatif yang tidak terhitung jumlahnya.

D.    Sekte-Sekte Dalam Agama Jain

Agama Jain terbagi menjadi dua sekte, akibat perpecahan yang disebabkan oleh cara berpakaian. Penganut dikawasan pegunungan Vindaya selalu memakai pakaian putih, dan disebut sekte Svetambara (jemaat berpakaian putih). Sedangkan penganut agama Jian disebelah selatan pegunungan Vindaya tidak menggunakan pakaian sehelaipun karena beriklim panas, jemaat ini disebut Digambara (jemaat telanjang), namun pecahnya agama Jain menjadi dua ini tidak berpengaruh pada ajaran Jain. Sekte Dirgambara sangat fanatik dalam menjalankan ajaran agama, sementara sekte Svetambara, lebih akomodatif dan lunak.

E.     Praktik Agama dan Ritual Agama Jaun

1.      Perilaku dan Sikap Asketisme

Asketisme diartikan sebagai prinsip tingkah laku yang “mematikan” raga demi memperoleh kebahagiaan. Keluhuran moral dan idealisme kehidupan agama. Dalam agama ini ada dua motif untuk melakukan kehidupan asketik ini. Pertama, kehidupan ini dianggap sebagai salah satu atletikisme spiritual yaitu latihan spiritual para atlet menjelang pertandingan. Kedua, kehidupan asketik menempatkan prinsip serba dua antara materi dan spirit jiwa. Perilaku asketisme oleh agama ini dijalankan secara ekstrim, karena itu banyak penganut Jain lebih mengesampingkan kehidupan duniawi yang hanya menurutkan hawa nafsu saja.

2.      Etika Penganut Agama Jain

Dalam ajaran agama ini ada lima disiplin spiritual yang dijalankan dengan ketat dan fanatik, sementara untuk penganut umumnya, prinsip ini terlalu ketat dan bisa di modifikasi. Ada lima sumpah untuk pendeta yaitu sumpah besar “Maha-vrata). Yaitu : ahimsa(non kekerasan), satya(kebenaran dalam pikiran), asteya (tidak mencuri), brahmacharya (pantang menuruti kehendak hawa nafsu), aparigraha (ketakmeletakan dengan pikiran, perkataan dan perbuatan). Untuk masyarakat umum yaitu sumpah kecil “anu-vrta) berikut keduabelas aturan yang awalnya berawal dari pendeta : tidak pernah melenyapkan nyawa makluk hidup dengan sengaja, tidak pernah berbohong, tidak mencuri, tidak berzina, tidak tamak, menghindari banyak godaan, membatasi jumlah barang yang dipakai dalam keseharian, menjaga hal yang berlawanan dan menghindari kesalahan, menjaga meditasi, mengamati periode penolakan diri, memanfaatkan kesempatan menjadi pendeta dan sedekah. Selain keduabelas aturan ini ada juga yang harus dijalankan prinsip ahimsa, yaitu diet vegetarian dan tidak memakan telur.

F.     Enam Ritual Penting

Ada enam ritual penting yang harus dilakukan bagi penganut Jainisme, berikut penjelasan singkatnya :

a.       Samayik (keadaan keseimbangan) yaitu ritual yang bertujuan agar yang menjalankannya semakin mendekati jiwanya

b.      Chaturvimsati (memuja 24 thirtankara), ketika seseorang mencapai sambhav dalam ritual samayik, maka ia harus mengingat tentang kepribadian besar yang menunjukan jalan samta dan harus berpikir tentang gunas (karakteristik) inilah konsepdibalik ritual Chaturvimsati.

c.       Vandan (mengucapkan salam kepada Saddhus/Bikkhu atau Sadvhis/Bikkhuni) : selama melakukan ritual ini, orang yang menjalaninya harus tunduk pada biarawan dan biarawati dan mengungkapkan rasa hormat kepada mereka.

d.      Pratikraman : secara harfiah Pratikaman berarti kembali dari pelanggaran, atau menyadari kesalahan yang telah dilakukan lalu perbaikan diri.

e.       Kayotsargga (meditasi jiwa): ritual ini dilakukan bertujuan agar orang dapat berkonsentrasi pada hakikat jiwa sehingga terpisah dari tubuh atau membacakan mantra navakar atau chauvisantho.

f.       Pratyakhyan (penolakan) : ritual ini bertujuan melakukan penolakan terhadap kegiatan tertentu yang dapat menghentikan aliran dari karma.

 

 

 

 

Referensi

Ali Imron, Muhamad, 2015. Sejarah terlengkap Agama-agama Dunia. Yogyakarta : IRCiSoD.

Comments

Popular posts from this blog

AGAMA BUDHA

AGAMA HINDU